Pendidikan dan Penghajaran

Pukulan Juga Dibutuhkan dalam Pendidikan
Sebuah Koreksi Terhadap Sistem Pendidikan STM Langsa Sekarang.
Oleh : Rudi Iswadi, S.Sos.I

Rudi Iswadi

Banyak orang yang menentang adanya “pemukulan” dalam sistem pendidikan. Padahal jika saja mereka mau melihat kembali bagaimana metode yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak, tentu mereka akan menyetujui adanya “pemukulan” dalam rangka pendidikan.

Namun, tentunya hal ini harus dipahami betul bagaimana dan kapan “pukulan” itu menjadi sebuah alat pendidikan.

Banyak opini yang keluar dari bibir alumni STM Langsa (khususnya Alumni tahun 1999-2000) tentang masa-masa dimana kekerasan dalam pendidikan itu kini luntur seiring bergantinya Pemimpin Sekolah itu.

Mungkin sebahagian kita senang dengan perubahan sistem pendidikan itu, namun disisi lain, banyak juga yang menyayangkan hal ini. Adapun dampak negatif dari perubahan sistem pendidikan yang tidak lagi menekankan pada sisi kedisiplinan, menjadi pemicu utama lemahnya mental para siswa dan kemunduran kualitas.

Jika hal ini dibantah dengan Reputasi STM Sekarang, yang telah banyak meraih kemenangan distiap ajang kompetisi antar sekolah yang ada di Provinsi ataupun ajang perlombaan berskala Nasional, tentu STM sekarang bisa dikatakan maju dan bahkan sangat maju.

Akan tetapi, kemajuan dan keberhasilan itu mungkin untuk sebahagian kecil dari siswa yang digembleng di sekolah kejuruan no.1 dilangsa tersebut.

Barometer Keberhasilan

Kemajuan dan keberhasilan sebuah sistem pendidikan bukanlah ditunjukkan dengan kesuksesan sebuah institusi pendidikan yang berteknologi canggih, memiliki sarana lengkap, pengajar-pengajar yang ulung dan ahli dibidangnya.

Namun, perlu diketahui..!

Sekolah adalah ibarat sebuah dapur, yang siap mengolah bahan baku menjadi bahan siap pakai. Nah, ketika alat-alat masak sudah lengkap, bahkan canggih, kemudian dengan koki yang telah bersertifikat, namun masakan yang dihasilkan tidak memiliki rasa yang enak, apakah ini dapat dikatakan sebuah keberhasilan atau kesuksesan ??

Oleh karena hal ini, cara memasak juga mempengaruhi hasil dari masakan itu sendiri.

Dengan demikian, jika melihat kualitas lulusan STM dahulu dan STM sekarang, tentunya masyarakat dapat mengatakan bahwa “STM Dahulu” dengan sistem pengajaran dan peng”hajar”an jauh lebih berhasil.

Hal ini dapat dibuktikan dengan mental lulusannya. Juga reputasi lulusan “STM Dahulu” yang telah menjawab itu semua, bahwa banyak lulusan “STM Dahulu” diterima bekerja pada Perusahaan besar bahkan perusahan luar negeri. Dan tidak sedikit pula dari mereka yang telah berhasil membuka lapangan kerja ditempat mereka menetap.

Anjuran Memukul sebagai sarana Pendidikan.

Hadits dari Amr bin ‘Ash bahwa Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مروا اولادكم بالصلاة وهم ابناء سبع سنين ، واضربوهم عليها وهم ابناء عشر ، وفرقوا بينهم في المضاجع

“Suruhlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat jika sampai umur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka (tidak mau sholat) padahal sudah berumur sepuluh tahun. Dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian (orang tua).” [HR. AlHakim dan Abu Daud, Hadits Shohih].

Inilah metode pengajaran yang tepat dan sangat baik untuk diteladani, karena Nabi Muhammad adalah sebaik-baik suri tauladan bagi kita.

Dan pemukulan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah pemukulan dalam rangka pembinaan dan pendidikan kedisiplinan anak untuk mematuhi sekala peraturan dan ketentuan yang ada. Maka ketika metode ini (pemukulan) ditinggalkan, sudah barang tentu akan menghambat proses pendidikan dikarenakan kurang ditekankannya kedisiplinan itu.

Disadari atau tidak, suasana pendidikan yang sekarang diterapkan di STM Negeri Langsa dibawah kepemimpinan Bapak Makmur Lingga, telah merubah warna dan corak STM yang sudah puluhan tahun dikenal masyarakat sebagai sekolah dengan Kedisiplinan tertinggi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain.

STM yang dahulunya menelurkan lulusan yang kuat dan tahan segala kondisi, kini hanya tinggal cerita. Dahulu tak terlihat seorang siswapun berambut panjang (mengikuti trend), tetapi sekarang para siswa dibiarkan memilih model rambut yang disukainya, seakan-akan STM sekarang adalah sekolah bagi anak-anak orang kaya yang tidak siap ditempa untuk mandiri dan bekerja keras.

Kesimpulan

Melihat sistem pendidikan yang kurang menekankan kedisiplinan, seakan menimbulkan keraguan dalam hati, apakah dengan sistem yang diterapkan sekarang tanpa ada “pemukulan” dalam rangka pembinaan kedisiplinan itu dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Tulisan yang singkat ini adalah sebuah bentuk kepedulian terhadap kemajuan STM Langsa kedepan. Dan sebagai pengingat kepada kita, bahwa tidak selamanya pemukulan itu merupakan bentuk kedzoliman yang dilarang. Namun, jika hal itu dilakukan secara proporsional dan profesional, maka akan sangat bermanfaat bagi peningkatan mutu sekolah yang kita cintai tersebut.

*Penulis adalah Alumni STM Negeri Langsa Jur. MP Unit 2

Iklan

Posted on Desember 30, 2007, in Dari Alumni. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. ka betoy nyan?

    Kiban yed? Pue na rencana bantah?

  2. sayed saifullah 2000

    tp emang dulu tahun 1997-2000, disiplin nya bagus. tapi ilmu pengajar kurang bagus.

    Yed, bisa dirincikan lagi? namanya juga manusia yed, mana ada yang sempoerna, semua serba kurang. Kurang ilmu, kurang ganteng, kurang kaya, kurang bahan. 🙂

  3. mungkin pak partok/ajwar enga pernah ngukum jurusan MP tapi bagi MO/BG itu sering, tapi menurutku itu kelewatan lah sebagai guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: